Ternyata
Belanda dan Australia biayai Tabloid Jubi
Pasca
tersiarnya kabar Hoax tentang ULMWP mendapat ruang kerja di Sekretariat MSG,
kini terungkap berita mencengangkan tentang aliran dana kepada Media cetak dan
Online itu.
Pada tanggal 6 Februari lalu, Tabloid Jubi merelease berita yang berjudul “Masyarakat Papua syukuri ruang kerja ULMWP di Sekretariat MSG” yang telah membuat geger media publik di Papua hingga mendapat perhatian khusus dari Dirjen Sekretariat MSG.
Pada tanggal 6 Februari lalu, Tabloid Jubi merelease berita yang berjudul “Masyarakat Papua syukuri ruang kerja ULMWP di Sekretariat MSG” yang telah membuat geger media publik di Papua hingga mendapat perhatian khusus dari Dirjen Sekretariat MSG.
“Tidak
ada ruang kerja ULMWP di Sekretariat MSG”, demikian klarifikasi langsung dari
Dirjen Sekretariat MSG pada hari Selasa, 7 Februari 2017. Berawal dari kejadian itu, sekarang timbul tanda tanya besar, siapakah orang yang berada
di balik media provokator di atas?
Terdapat
kecurigaan bahwa selama ini Tabloid Jubi dibiayai oleh kelompok-kelompok separatis
untuk terus menerus memberitakan pergerakan mereka di Luar Negeri. Kemungkinan
dana sumbangan yang selama ini ditarik dari anggota KNPB dan PRD wilayah
dialokasikan juga untuk Tabloid Jubi.
Tapi
tidak disangka, terungkap kenyataan lain yang berada dibalik eksistensi Tabloid
Jubi selama ini. Menurut penuturan dari salah satu anggota Redaksi Tabloid
Jubi, beberapa aliran dana yang ikut membiayai operasional kegiatan mereka
berasal dari Luar Negeri.
“Dibandingkan
rekan-rekan seprofesi kami dari media lainnya di Papua, kami termasuk yang
memiliki pendapatan dan kesejahteraan tertinggi. Bagaimana tidak, gaji kami
bermata uang Dollar dan langsung berasal dari Belanda dan Australia”, ungkap
salah seorang redaksi Tabloid Jubi.
“Saya
pernah diminta tolong bos untuk mengeprint rekening koran miliknya. Sempat saya
baca sekilas, ada riwayat transfer dari Bank di negeri yaitu dari Belanda dan
Australia” tambahnya menjelaskan.
Apabila
kita kaitkan dengan kondisi nyata di lapangan. Maka hal tersebut sangat mungkin
terjadi. Kita lihat bagaimana dulu Belanda sangat sulit melepaskan Papua
dibandingkan dengan wilayah lain di Indonesia. Walaupun sudah Indonesia merdeka
tahun 1945, Belanda tetap tidak menyerahkan Papua kepada Indonesia. Hingga
puncaknya saat Belanda mulai terdesak dengan upaya diplomasi RI, Belanda
menciptakan kebencian dan konflik berkepanjangan di Papua dengan cara
memberikan kemerdekaan kepada sekelompok orang Papua. Dengan begitu, sekelompok
orang tersebut (OPM) berpandangan bahwa Papua sudah merdeka namun dijajah oleh
Indonesia, padahal kenyataannya tidak seperti itu. Dilihat dari sejarah ini,
besar kemungkinan Belanda terus melakukan upayanya agar selalu terjadi konflik
di Papua, salah satunya adalah membiayai media provokator untuk menyebarkan
berita-berota yang menyulut konflik di Papua.
Tidak
menutup kemungkinan Australia juga melakukan hal yang sama. Jika kita
menganalisa kebijakan pemerintah Australia beberapa tahun terakhir ini,
terdapat indikasi bahwa Australia melakukan persiapan untuk ekspansi wilayah. Lepasnya
Timor-timur dari NKRI adalah salah satu bentuk nyata kejadian itu. Sadar ataupun
tidak disadari, kejadian merdekannya Timor Leste tidak terlepas dari campur
tangan Australia. Bukti nyatanya adalah baru terlihat saat ini, pemerintahan
Timor Leste sedikit banyaknya telah “disetir” oleh Pemerintah Australia. Kalau kita
sangkut pautkan dengan pembiayaan kepada Tabloid Jubi, apabila Papua terus
bergejolak maka terbuka kemungkinan Australia bisa mengintervensi papua juga
seperti di Timor Leste.

Komentar